TOFI
APhO
IPhO
IJSO
Kelas Super
The First Step to Nobel Prize
WoPho
Rektor UMN
Tanya Yohanes Surya
Pelatihan Guru
Surya Institute
SURE Center
Ekonofisika
Fisika Gasing
Game Learning
Matematika GASING - GIPIKA
Mestakung
Asyiknya FisikaAyo BermimpiBercerita tentang Peraih NobelCerita Seputar LombaOlahraga dengan FisikaTeknologi & Masa Mendatang
EntrepreneurASC 2008ICYSASEC 2008
Sumur Gas Beracun


Tanya: Salam Pak Yohanes. Pada 9 Juli 2004 lalu saya membaca salah satu berita di harian Kompas yang isinya memberitakan “Tiga karyawan ternak ayam tewas di lubang sumur karena gas beracun”. Dari berita itu timbul tiga pertanyaan pada diri saya, yang tidak bisa saya jawab sendiri sehingga perlu bantuan Prof. Yohanes. Ketiga pertanyaan itu adalah:

a.     Mengapa di dalam sumur sampai ada gas beracun hingga dapat membunuh manusia dan apa nama gas itu?

b.     Pada kedalaman berapa meter gas tersebut dapat muncul?

c.     Bagaimana cara mengetahui ada-tidaknya gas beracun dalam sebuah sumur?
Atas jawabannya, saya ucapkan terima kasih.
(Wahyudi, di Tanjungpinang)

Jawab: Kemungkinan gas yang dimaksud yaitu gas hidrogen sulfida yang tidak berwarna dan berbau seperti telur busuk. Massa jenisnya lebih besar dari massa jenis udara, sehingga gas ini sering didapati pada tempat-tempat rendah seperti sumur. Gas ini juga terdapat pada gas-gas gunung berapi, ladang-ladang minyak, industri tambang, dan industri kayu. Gas ini dihasilkan oleh bakteri yang memecah senyawa organik tanpa oksigen misalnya dalam lumpur/tanah becek atau dalam pipa-pipa pembuangan kotoran.

Gas hidrogen sulfida sangat berbahaya. Ketika terhisap oleh manusia, lewat paru-paru gas akan terserap cepat oleh darah dan dibawa ke otak. Gas ini akan mencegah bekerjanya enzim cytochrome oxidase yang sangat penting untuk pernapasan sel otak. Akibatnya, orang yang menghirupnya bisa meninggal.
Cara mengetahui adanya gas hidrogen sulfida ini dengan menggunakan detektor gas. Biasanya, perusahaan-perusahaan besar yang berhubungan dengan galian-galian atau sumur mempunyai detektor gas ini.



(Yohanes Surya)