Liputan
Outreach, Development of Indonesia's Outlying Areas

Liputan majalah Tempo, 2 Agustus 2011

 Liputan
Anak-Anak Papua yang Digembleng Matematika dan IPA di Surya Institute (NEW!!)

Tak ada anak Indonesia yang bodoh. Itulah yang diyakini pendiri Surya Institute Prof Yohanes Surya PhD. Berbekal keyakinan tersebut, dia merekrut 27 anak Papua secara acak untuk digembleng di lembaga yang dipimpinnya. Kini, setelah sepuluh bulan, sebagian di antara mereka siap diterjunkan dalam ajang olimpiade.

 Liputan Media
Adakah anak Jenius Indonesia?

Apakah anak-anak Indonesia setara kecerdasannya dengan anak-anak bangsa-bangsa maju di dunia? Kalau anda melihat deretan prestasi Prof. Yohanes Surya dan anak-anak asuhannya, jawabannya adalah, tidak.Samasekali tidak.

 SREC
Speech Peletakan Batu Pertama SREC

Hari ini mimpi ini sedikit demi sedikit mulai terealisir. Diatas tanah yang saat ini kita injak bersama ini akan terjadi suatu sejarah yang luar biasa. Mengapa? Ditempat inilah pembelajaran GASING (Gampang Asyik dan Menyenangkan) untuk matematika dan Sains akan terus disempurnakan.

SREC
Speech Peletakan Batu Pertama SREC
2010-02-23 21:40:29

 

Bapak Ibu dan para undangan yang saya hormati.

 

Pada kesempatan yang berbahagia ini perkenankan saya mengucapkan salam sejahtera bagi kita yang hadir di tempat ini.

 

Hari ini kita akan menyaksikan peletakan batu pertama Surya Reseach and Education Center atau disingkat SREC.

 

Sudah menjadi mimpi saya bertahun-tahun memiliki suatu pusat pelatihan yang baik dilengkapi dengan laboratorium dan asrama.

 

Hari ini mimpi ini sedikit demi sedikit mulai terealisir.

Diatas tanah yang saat ini kita injak bersama ini akan terjadi suatu sejarah yang luar biasa. Mengapa?

Ditempat inilah pembelajaran GASING (Gampang Asyik dan Menyenangkan) untuk matematika dan Sains akan terus disempurnakan. Pembelajaran ini tidak hanya  untuk SD tetapi juga untuk SMP dan SMA. Akan terjadi suatu reformasi pembelajaran sains dan matematika bukan saja di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.  Anak-anak akan suka belajar matematika dan sains. Matematika dan Sains tidak lagi menjadi momok yang menakutkan, tetapi menjadi sesuatu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu siswa.

 

Ditempat inilah juga akan dilatih ribuan guru-guru dari daerah-daerah khususnya dari daerah pedalaman atau daerah tertinggal. Daerah pedalaman yang kekurangan guru-guru diharapkan dapat mulai tersenyum. Siswa-siswa yang dulu tidak mempunyai guru yang baik, akan bisa tersenyum karena akan mempunyai ratusan guru-guru yang terlatih.  Pembelajaran akan menjadi sangat menyenangkan.  Tidak akan ada lagi siswa  SMA daerah  tertinggal, yang tidak bisa menghitung 17+9 ataupun tidak bisa menghitung perkalian sederhana seperti 6 x 7. Tidak akan ada lagi siswa yang tidak mampu menghitung operasi pecahan sederhana seperti ½ + 1/3 =.  Tidak ada lagi siswa yang menghitung pakai 12 + 5 dengan membuat garis 12 lalu buat lagi garis 5 kemudian menghitung garis itu satu persatu.

 

Anak-anak  pedalaman atau anak-anak dari daerah tertinggal akan mampu bersaing dengan anak-anak di kota besar. Anak-anak pedalaman akan masuk universitas-universitas terbaik baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Anak-anak pedalaman akan menjadi juara-juara olimpiade sains baik tingkat nasional maupun tingkat dunia. Ini bukan mimpi. Ini akan menjadi kenyataan.  Akan terjadi suatu reformasi yang dahsyat.

 

Ini bukan mimpi! Saya percaya ini akan jadi kenyataan. Pendidikan Indonesia akan berkembang kearah positif dan dapat menjadi contoh bagi perkembangan pendidikan di negara-negara lain.

Bapak Ibu dan adik-adik sekalian, menurut teori Mestakung kita bisa mencapai apa yang kita impi-impikan asal memenuhi 3 hukum Mestakung:

 

Hukum pertama:  dalam setiap kondisi kritis ada jalan keluar.

Kita saat ini berada pada kondisi kritis, kita mempunyai visi yang begitu besar untuk bangsa ini dan untuk kemanusiaan. Kita sudah ceritakan ini ke banyak orang. Dana pembangunan belum ada. Ini benar-benar nekad. Namun saya percaya bahwa akan ada jalan keluar. Akan ada jalan untuk center ini berdiri.

 

Kemudian hukum kedua:  Ketika kita melangkah, terbukalah jalan keluar itu.

Nah kita sudah melangkah yaitu kita saat ini meletakan batu pertama.

Keberanian kita melangkah ini akan mencelikan mata kita untuk melihat jalan-jalan yang terbuka agar visi besar untuk mencerdaskan bangsa ini akan terealisir.  Jalan yang tadinya tertutup akan terbuka. Pintu-pintu akan dibukakan.  Ini bukan khayalan, tetapi akan menjadi suatu kenyataan!

 

Nah hukum ketiga mengatakan ketika kita melangkah dengan tekun maka terjadilah mestakung (semesta mendukung).  Akan  terjadi pelipatgandaan hasil yang luar biasa. Kita akan melihat bagaimana semesta dalam hal ini sekeliling kita akan mendukung kita untuk merealisasikan mimpi dan visi ini. Untuk membuat orang-orang di dunia ini khususnya di Indonesia menyukai sains dan matematika. Untuk membuat daerah tertinggal mempunyai harapan masa depan yang lebih cerah. Ini yang kita harapkan. Apa yang tidak mungkin, akan jadi mungkin.

 

Sebentar batu pertama pembangunan SREC ini akan diletakan. Tahukah Anda bahwa batu ini sengaja di datangkan dari gunung  Siklop di Sentani, Kabupaten Jayapura Papua.  Mengapa harus jauh-jauh didatangkan dari sana? Batu ini akan mengingatkan kita untuk tetap komit dan  fokus   meningkatkan pendidikan di Indonesia khususnya di daerah-daerah tertinggal seperti Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimantan dsb.  Adalah tugas kita di center ini untuk menjadikan yang terbelakang menjadi yang terdepan.

 

Marilah pada kesempatan ini kita berdoa bersama kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar apa yang kita impi-impikan ini dapat terlaksana. Mari kita kerja keras, melangkah dan melangkah sehingga terjadilah mestakung.  Kita akan melihat bersama Indonesia menjadi negara maju dengan kualitas pendidikan yang sangat baik dimana seluruh  siswa menikmati belajar sains dan matematika.

Terimakasih.

 

Prof. Yohanes Surya – speech waktu peletakan batu pertama gedung Surya Research and Education Center

Karawaci 22-02-2010

 




Error connecting to mysql